Kenapa Orang Betah Scroll Berjam-Jam? Ini Faktanya

MU
Muhammad Zanika Esa Putra
Kenapa Orang Betah Scroll Berjam-Jam? Ini Faktanya

Bangun tidur langsung membuka TikTok atau Instagram sekarang terasa sangat biasa. Banyak orang bahkan tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling sosial media. Aktivitas yang awalnya dilakukan sebentar sering berubah menjadi kebiasaan panjang tanpa terasa.

Fenomena ini semakin sering dibahas karena screen time masyarakat terus meningkat setiap tahun. Sosial media bukan lagi sekadar tempat komunikasi. Platform digital sekarang menjadi sumber hiburan, informasi, hingga pelarian dari rasa bosan.

Hal menariknya, banyak pengguna sebenarnya sadar bahwa mereka terlalu lama scrolling. Namun, mereka tetap sulit berhenti membuka aplikasi yang sama berulang kali. Di sinilah data perilaku digital mulai menarik untuk dipahami.

Screen Time Masyarakat Naik dari Tahun ke Tahun

Berdasarkan laporan Digital 2026 Global Overview Report dari DataReportal, rata-rata pengguna internet menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengakses sosial media. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menjadi penyumbang terbesar tingginya screen time masyarakat.

Kebiasaan digital masyarakat berubah sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu internet dipakai untuk mencari informasi tertentu, sekarang banyak pengguna justru menghabiskan waktu untuk menikmati konten singkat secara terus-menerus.

Durasi penggunaan sosial media di Indonesia juga termasuk tinggi dibanding beberapa negara lain. Banyak pengguna membuka aplikasi sosial media puluhan kali dalam sehari tanpa sadar.

Sebagai referensi tambahan mengenai statistik penggunaan sosial media global, kamu bisa membaca sumber berikut:

👉https://datareportal.com/

👉https://wearesocial.com/id/

👉https://www.statista.com/

Gen Z Bisa Menghabiskan Lebih dari 9 Jam di Depan Layar

Data screen time global menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok dengan durasi penggunaan layar tertinggi dibanding generasi lain. Beberapa laporan digital 2026 menyebut Gen Z rata-rata menghabiskan lebih dari 9 jam per hari di depan layar digital.

Jika dihitung dalam satu minggu, angka tersebut setara dengan lebih dari 63 jam screen time. Bahkan, waktu tersebut lebih panjang dibanding rata-rata jam kerja formal dalam seminggu.

Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk sosial media, video pendek, streaming, dan komunikasi digital. TikTok, Instagram Reels, serta YouTube Shorts menjadi platform dengan tingkat konsumsi tertinggi karena kontennya cepat dan terus diperbarui.

Yang menarik, peningkatan screen time ini tidak hanya terjadi karena kebutuhan hiburan. Banyak pengguna membuka sosial media secara refleks tanpa tujuan tertentu. Inilah alasan kenapa scrolling sering terasa sangat sulit dihentikan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku digital masyarakat modern sekarang semakin dipengaruhi oleh algoritma dan pola konsumsi konten instan.

Algoritma Sosial Media Memang Dirancang agar Pengguna Bertahan Lama

Banyak orang mengira mereka scrolling terlalu lama karena kurang disiplin. Padahal, ada faktor besar lain yang memengaruhi kebiasaan tersebut, yaitu algoritma sosial media.

Algoritma bekerja dengan mempelajari perilaku pengguna. Setiap video yang ditonton, postingan yang disukai, hingga durasi seseorang melihat konten akan direkam menjadi data.

Data tersebut kemudian digunakan platform untuk menampilkan konten yang paling relevan bagi pengguna. Inilah alasan kenapa halaman For You Page di TikTok terasa sangat personal.

Semakin lama pengguna bertahan di aplikasi, semakin besar keuntungan platform digital. Karena itu, sosial media terus mengembangkan sistem yang membuat pengguna nyaman scrolling selama mungkin.

Kamu juga bisa mempelajari perkembangan teknologi digital melalui artikel berikut:

👉https://educativa.id/blog/

Data Perilaku Pengguna Menjadi “Bahan Bakar” Platform Digital

Setiap aktivitas pengguna meninggalkan jejak data digital. Ketika seseorang berhenti lebih lama di satu video, sistem akan menganggap konten tersebut menarik.

Saat pengguna menonton video sampai selesai, algoritma membaca hal itu sebagai sinyal bahwa konten tersebut relevan. Dari sinilah sosial media membangun pola perilaku pengguna.

Fenomena ini sebenarnya berkaitan erat dengan statistik dan analisis data. Platform digital menggunakan jutaan data pengguna untuk mencari pola tertentu yang dapat meningkatkan engagement.

Dalam dunia penelitian, pola seperti ini juga sering dianalisis menggunakan statistik kuantitatif. Peneliti biasanya memakai data screen time, survei pengguna, dan perilaku digital masyarakat untuk menemukan hubungan tertentu.

Kalau kamu sedang belajar olah data penelitian, kamu bisa mempelajari layanan berikut:

👉https://educativa.id/jasa-olah-data/ 

👉https://educativa.id/about/jasa-konsultasi-penelitian/

Kenapa Scroll Sosial Media Sulit Dihentikan?

Banyak pengguna sebenarnya sudah berniat berhenti scrolling. Namun, beberapa menit kemudian mereka kembali membuka aplikasi yang sama.

Fenomena ini berkaitan dengan sistem dopamin dalam otak. Konten sosial media dirancang agar pengguna terus mendapatkan stimulus baru secara cepat.

Video pendek, berita viral, hingga konten yang memancing emosi membuat pengguna selalu ingin melihat konten berikutnya. Karena kontennya terus berganti, pengguna menjadi sulit berhenti scrolling.

Secara psikologis, sosial media juga sering menjadi tempat pelarian dari rasa bosan atau stres. Inilah alasan kenapa banyak orang scrolling tanpa tujuan tertentu.

Fenomena seperti ini sekarang sering disebut sebagai doomscrolling. Pengguna terus mengonsumsi konten secara berlebihan meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.

Doomscrolling Bisa Menghabiskan Puluhan Hari dalam Setahun

Banyak orang menganggap scrolling sosial media hanya menghabiskan beberapa menit. Namun, data menunjukkan durasi tersebut sebenarnya jauh lebih besar jika dikumpulkan dalam jangka panjang.

Beberapa riset screen time memperlihatkan bahwa rata-rata pengguna sosial media dapat menghabiskan sekitar 2,5 hingga 3 jam per hari hanya untuk scrolling konten digital.

Jika dihitung selama satu tahun, durasi tersebut setara dengan lebih dari 1.000 jam atau sekitar 45 hari penuh hanya untuk scrolling sosial media. Bahkan, sebagian pengguna mengaku screen time mereka bisa mencapai 5 hingga 7 jam per hari tanpa disadari.

Fenomena ini menjadi menarik dalam perspektif statistik karena menunjukkan bagaimana kebiasaan kecil yang dilakukan berulang ternyata menghasilkan angka yang sangat besar.

Di sisi lain, tingginya durasi doomscrolling juga mulai dikaitkan dengan gangguan fokus, kualitas tidur yang menurun, hingga meningkatnya rasa cemas akibat konsumsi informasi berlebihan.

Dampak Screen Time Berlebihan terhadap Fokus dan Produktivitas

Screen time yang terlalu tinggi tidak selalu buruk. Namun, penggunaan sosial media secara berlebihan dapat memengaruhi fokus dan produktivitas seseorang.

Banyak pengguna merasa lebih sulit berkonsentrasi saat belajar atau bekerja karena selalu sering membuka sosial media. Tidak sedikit juga yang mengalami gangguan tidur akibat scrolling hingga larut malam.

Selain itu, konsumsi konten yang terlalu cepat membuat otak terbiasa menerima hiburan instan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan fokus panjang terasa lebih melelahkan.

Dalam beberapa penelitian, screen time berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya rasa cemas dan menurunnya konsentrasi. Karena itu, penting untuk mulai menyadari pola penggunaan sosial media sehari-hari.

Statistik Membantu Kita Memahami Perilaku Digital

Fenomena scrolling sosial mesia menunjukkan bahwa statistik tidak hanya dipakai dalam dunia ekonomi atau akademik. Data juga digunakan untuk memahami perilaku manusia sehari-hari.

Dari screen time, pola interaksi pengguna, hingga durasi menonton video, semuanya dapat dianalisis menggunakan statistik. Inilah alasan kenapa kemampuan membaca data menjadi semakin penting di era digital.

Mahasiswa, peneliti, hingga content creator sekarang mulai memanfaatkan data untuk memahami perilaku audien mereka. Data membantu seseorang melihat pola, kebiasaan, dan kecenderungan masyarakat digital.

Kalau kamu sedang mengerjakan skripsi atau penelitian tentang sosial media dan perilaku digital, kamu bisa menggunakan layanan berikut”

👉https://educativa.id/bimbingan-skripsi-tesis-disertasi/ 

👉https://educativa.id/layanan-kami/ 

👉https://educativa.id/edupublisher/

Kesimpulan

Kebiasaan scrolling sosial media selama berjam-jam ternyata bukan sekadar soal malas atau kurang disiplin. Ada algoritma, data perilaku pengguna, dan sistem digital yang memang dirancang agar pengguna bertahan lebih lama di aplikasi.

Melalui statistik dan analisis data, kita bisa memahami kenapa screen time masyarakat terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa data memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan manusia modern.

Kemampuan membaca dan mengolah data sekarang menjadi skill yang semakin penting. Tidak hanya untuk penelitian akademik, tetapi juga untuk memahami bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi CTA

👉Sedang mengerjakan skripsi atau penelitian tentang sosial media, perilaku digital, dan analisis statistik tetapi masih bingung mengolah data SPSS, SmartPLS, atau interpretasi hasil penelitian? Konsultasikan penelitianmu bersama tim Educativa melalui https://educativa.id/website agar proses olah data lebih mudah, terarah, dan valid!

Referensi

https://datareportal.com/reports/digital-2026-global-overview-report

https://wearesocial.com/id/blog/2026/01/digital-2026

https://www.cnbcindonesia.com/tech

https://tekno.kompas.com

https://www.statista.com

https://backtofrontshow.com/screen-time-statistics/?

https://www.screenbuddyapp.com/blog/screen-time-statistics-2026?

Referensi Gambar

https://radarutara.disway.id/tekno/read/645763/no-1-di-dunia-orang-indonesia-kecanduan-scrolling-hp

https://www.thenationalnews.com/future/technology/2025/01/17/tiktok-brain-what-attention-span

Artikel Terkait Lainnya

Malas Nugas? Teknik Pomodoro ini Bikin Skripsi Cepat Kelar!

Menjaga Fokus dengan Teknik Pomodoro Menjaga konsentrasi saat menyusun riset akademik memang susahnya minta ampun tanpa pengaplikasian teknik pomodoro. Faktanya, kita sering kehilangan fokus akibat dering notifikasi handphone saat asyik membaca literatur kampus. Akibatnya, progres pengerjaan analisis melambat dan target deadline pun meleset jauh. Oleh karena itu, siklus kehilangan fokus ini jelas membuat jadwal kelulusan skripsi makin molor. Kamu mungkin sudah menjajal aneka trik produktivitas, tetapi hasilnya sering kali masih nihil. Padahal, ritme kerja yang konsisten merupakan kunci utama agar kita bisa cepat lulus. Kini, ada satu metode time management andalan yang wajib banget kamu coba. Banyak orang mengenal jurus ini sebagai praktik manajemen waktu yang sudah terbukti luar biasa ampuh. Mari kita bedah tuntas cara kerja trik pengaturan jadwal ini agar skripsimu lekas rampung. Apa Itu Teknik Pomodoro? Sejarah Singkat Teknik Pomodoro Pada dasarnya, teknik pomodoro merupakan sistem manajemen waktu populer dari era delapan puluhan. Menariknya, seorang mahasiswa bernama Francesco Cirillo menciptakan konsep cemerlang ini karena ia juga sering kehilangan fokus. Ia merasa gelisah karena selalu membuang waktu belajarnya secara sia-sia. Selanjutnya, istilah pomodoro sendiri berasal dari kosakata bahasa Italia yang berarti buah tomat. Sang penemu ide menggunakan timer dapur berbentuk tomat saat sedang belajar. Untuk wawasan sejarah lebih […]

HRD Ogah Sama Si Kaku! 3 Solusi Gen Z Wawancara Kerja

Ironi Si Jago Kerja Saat Seleksi Menariknya, dunia profesional saat ini menyoroti fenomena gen z wawancara kerja yang cukup unik di lapangan. Faktanya, generasi masa kini sangat mahir bekerja, tetapi mereka sering mendadak gagap saat tahap seleksi. Oleh karena itu, para recruiter perusahaan sering mengeluhkan kondisi ironis dari pelamar muda ini. Secara teknis, kemampuan operasional kamu mungkin sangat luar biasa dan melampaui pelamar lainnya. Namun, kamu sering merasa lidah mendadak kelu dan otak menjadi kosong saat menatap penguji. Akibatnya, kegagalan saat sesi interview ini jelas sangat menghambat laju karir impianmu. Maka dari itu, kita harus segera mencari akar permasalahan dari fenomena karir unik ini. Selanjutnya, tulisan ini membedah tuntas alasan kandidat muda kerap tersandung pada tahap awal seleksi. Mari pelajari solusinya agar kamu sukses menembus gerbang perusahaan idaman dengan rasa percaya diri. Mengapa Gen Z Wawancara Kerja Sering Gagal? Dampak Kurangnya Interaksi Tatap Muka Sebagai seorang digital native, pemuda masa kini tumbuh besar bersama dominasi layar ponsel pintar. Faktanya, mereka lebih sering membangun interaksi komunikasi melalui ketikan teks atau pesan suara. Hal ini secara otomatis menumpulkan kemampuan komunikasi verbal mereka saat bertatap muka secara langsung. Selanjutnya, kamu wajib merespons berbagai pertanyaan rumit secara kilat saat memasuki ruang seleksi. Sayangnya, kita […]

AI untuk Analisis Data: Cara Lulus Cepat Tanpa Plagiarisme

Kehadiran AI untuk Analisis Data dalam Riset Faktanya, kehadiran artificial intelligence kini sukses mengubah kebiasaan mahasiswa saat menyusun riset akademik. Banyak mahasiswa mulai aktif mengoperasikan ai untuk analisis data secara harian. Sayangnya, mereka sering kali mengabaikan tanggung jawab moral saat memakai teknologi mutakhir tersebut. Tentu saja, kita sangat menginginkan naskah skripsi selesai jauh lebih cepat dari target. Namun, banyak mahasiswa belum menyadari batasan etika dalam penggunaan teknologi pintar tersebut. Padahal, pelanggaran etika penelitian pasti membuat dosen pembimbing menolak hasil risetmu mentah-mentah. Oleh karena itu, kamu wajib memahami cara mengoperasikan kecerdasan buatan secara aman dan etis. Selanjutnya, tulisan ini memandu kamu memakai ai untuk analisis data tanpa menabrak aturan baku kampus. Mari pelajari batasannya agar kamu senantiasa menjaga mutu penelitian dan validitasnya. Batasan Penggunaan AI untuk Analisis Data AI Sebagai Asisten, Bukan Pengganti Pada dasarnya, peran utama kecerdasan buatan murni berfungsi sebagai asisten digital saja. Kita sama sekali tidak boleh menyerahkan seluruh proses penghitungan kepada mesin. Sebaliknya, kamu harus selalu menjadi nakhoda utama yang mengambil setiap keputusan analitis. Menariknya, mesin canggih ini memang sangat jago merapikan dataset yang berantakan. Algoritmanya juga bekerja super kilat saat mendeteksi anomali pada deretan angka. Meskipun demikian, kewajiban memahami konteks penelitian secara mendalam tetap menjadi tugas […]
Ecosystem Map

Start Here — Pilih Jalur Risetmu

4 pilar Research SuperApp Educativa. Terhubung dari awal perumusan ide hingga terbit di jurnal bereputasi.

Learn

KelasRiset — 300+ materi video & pathway riset kurikulum lengkap.

Pelajari selengkapnya

Consult

EduMentor / EduResearch — bimbingan & konsultasi 1-on-1 expert.

Pelajari selengkapnya

Execute

EduStatistics / EduCourse — olah data & kursus analisis statistik.

Pelajari selengkapnya

Publish

EduPublisher — pendampingan submit & publikasi jurnal (SINTA–Scopus).

Pelajari selengkapnya
Lagi stuck di bagian ini?
Judul / Topik Riset Penyusunan Bab 1-3 Olah Data Statistik Publikasi Jurnal Ilmiah